Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Bahan jamu yang diracik dari daun, kulit batang, buah, bunga, dan akar wangi telah digunakan secara turun-temurun untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, tidak semua obat herbal aman dikonsumsi.

Karena produk herbal banyak beredar di pasaran diketahui mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan efek samping yang serius, seperti masalah jantung dan tekanan darah. Banyak produk suplemen yang tidak memiliki izin edar BPOM alias ilegal.

Untuk itu, Anda sebagai konsumen harus bijak dalam memilih dan membeli obat herbal yang aman. Simak tipsnya di bawah ini.

Bagaimana cara memilih suplemen dan obat herbal yang aman dikonsumsi?

Penderita anemia mengonsumsi suplemen saat berpuasa

Berikut tips memilih suplemen herbal dan produk obat yang aman berdasarkan pedoman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

1. Periksa kemasannya

Sebelum membeli, cek dulu kemasan produknya. Pastikan kemasan tidak sobek, terkelupas, penyok, berlubang, berkarat, atau bocor. Periksa kapan produk dibuat dan kapan tanggal kedaluwarsa.

Pastikan juga bahwa informasi berikut ini disertakan pada label semua suplemen herbal.

  • Nama suplemen.
  • Nama dan alamat pabrik atau distributor.
  • Daftar bahan lengkap bahan – baik di brosur yang disertakan dalam kemasan atau tercantum di wadah.
  • Saran Penyajian, Dosis, dan Jumlah Bahan Aktif.
  • Nomor izin edar BPOM.

2. Baca labelnya

Baca dan teliti label kemasan. Pertanyaan-pertanyaan berikut perlu dipertimbangkan.

  • Adakah kontraindikasi dan larangan?
  • Bagaimana cara yang benar untuk menggunakannya, dan apakah ada batasan dosis per hari?
  • Bahan aktif apa yang mungkin dikandungnya?
  • Apakah Anda alergi terhadap salah satu bahan yang tercantum?
  • Apakah dokter atau kondisi kesehatan Anda saat ini melarang Anda untuk mengonsumsi salah satu bahan ini?
  • Adakah pantangan makanan, minuman, obat-obatan, dan aktivitas yang harus dihindari selama mengonsumsi obat herbal ini?

Produsen suplemen herbal bertanggung jawab untuk memastikan bahwa klaim yang mereka buat tentang produk mereka tidak salah atau menyesatkan dan didukung oleh bukti yang memadai. Namun, mereka tidak diwajibkan untuk menyerahkan bukti tersebut ke BPOM.

Oleh karena itu, meski terbuat dari bahan alami, banyak obat herbal yang mengandung senyawa kimia alami berpotensi menimbulkan risiko efek samping yang merugikan.

Temulawak diklaim berkhasiat sebagai obat penambah nafsu makan dan mengatasi sembelit, namun memiliki khasiat pengencer darah yang dapat menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit lever.

Suplemen daun Dewa dan belalai gajah yang diklaim dapat mengobati kanker terbukti menyebabkan keracunan hati.

BPOM telah menekankan bahwa tidak ada jamu, suplemen herbal, atau obat tradisional yang dapat menggantikan kemoterapi atau prosedur lain untuk menyembuhkan kanker.

3. Pastikan ada izin edar

Pastikan produk jamu yang ingin Anda beli memiliki izin edar dari BPOM. Untuk memastikan keasliannya, Anda bisa mengecek nomor yang tertera di link berikut http://cekbpom.pom.go.id/. Klik sini untuk melihat daftar lengkap obat tradisional yang diakui BPOM. Untuk daftar obat tradisional yang sudah ditarik dan dilarang peredarannya, Anda bisa mengunjungi lamannya BPOM ini.

Jika menggunakan ramuan herbalis, pastikan dukun tersebut memiliki izin praktik dan terdaftar resmi di Dinas Kesehatan.

Baca:  Tips Bepergian untuk Penderita Alergi dan Asma di Masa PSBB Transisi

4. Lihat logo kelas kedokteran

Berdasarkan ketentuan BPOM, obat tradisional dibedakan menjadi 3 kategori yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandard (OHT), dan fitofarmaka.

Agar suatu obat herbal dinyatakan aman, produk tersebut harus terlebih dahulu dibuktikan keamanannya secara ilmiah melalui serangkaian uji klinis. Obat herbal juga harus diuji untuk dosis, metode penggunaan, efektivitas, pemantauan efek samping, dan interaksinya dengan senyawa obat lain.

Fitofarmaka merupakan satu-satunya golongan jamu yang telah lulus semua uji praklinis dan klinis pada manusia.

Sayangnya, sebagian besar jamu yang beredar di Indonesia termasuk dalam kategori jamu dan OHT. Keduanya merupakan jenis obat tradisional yang keamanannya belum terbukti berdasarkan uji klinis.

Kemanjuran OHT hanya dibuktikan sejauh percobaan pada hewan laboratorium. Hasil percobaan tersebut sering dijadikan dasar pengobatan herbal untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Padahal, efeknya belum tentu sama pada manusia.

Sedangkan jamu yang biasanya menggunakan resep turun-temurun tidak memiliki dosis dan indikasi yang pasti. Ini dapat memiliki manfaat dan risiko efek samping yang berbeda untuk setiap orang.

Meski aman, namun tidak semua orang boleh minum jamu

jamu dan pengobatan alternatif untuk kanker payudara

Mengonsumsi jamu dan jamu sebagai alternatif pelengkap obat sintetik (baik resep maupun non resep) sebenarnya bisa diterima.

Ramuan jamu dalam bentuk rebusan relatif aman karena zat toksik yang mungkin terkandung di dalamnya telah mengalami perubahan struktur kimiawi sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun, keamanan obat herbal yang diracik dengan metode lain harus selalu dipertanyakan.

Suplemen herbal biasanya hanya menunjukkan manfaatnya jika dikonsumsi secara teratur dalam jangka panjang. Hanya saja, perhatikan takaran dan waktu penggunaan jamu jamu jika menggunakan obat lain.

Obat herbal tidak boleh diminum sebelum obat medis untuk menghindari risiko interaksi senyawa kimia, dan sebaiknya dikonsumsi 1 – 2 jam setelah obat medis.

Oleh karena itu, obat-obatan herbal sebaiknya hanya dikonsumsi untuk menjaga kesehatan, menyembuhkan penyakit, atau mengurangi risiko penyakit – bukan untuk menyembuhkannya. Untuk menyembuhkan penyakitnya dibutuhkan obat resep dan pengobatan medis.

Jadilah konsumen yang cerdas dan pilihlah obat herbal yang aman dikonsumsi. Jangan sampai dibutakan oleh rayuan iklan bombastis.

Postingan Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi muncul pertama kali di Hello Sehat.